Sabtu, Mei 07, 2005

SELALU DI TENGAH MALAM

Selalu di tengah malam sepasukan pengingat masuk ke dalam bilik jantungku. Aku meraba otakku untuk memastikan bahwa namamu selengkapnya masih tersimpan di sana, karena hanya itulah senjataku.
"Apakah engkau masih benar-benar ada di luar sana sayangku?" tanya sebagian imanku yang rapuh. Tapi aku mengerti bahwa engkau bukanlah kitab suci atau novel-novel baru yang ditulis indah oleh para perempuan muda, - mereka tumbuh bagaikan jamur di musim hujan akhir-akhir ini -, sehingga mengharapkanmu terbit adalah hampir omong kosong. Walaupun demikian ruangan yang hampa itu masih selalu kubersihkan dan kuberi wangi-wangian dari bunga-bunga ungu.
Ah, seandainya aku bisa memaksamu untuk kembali melukis bunga-bunga ungu di tengah malam ini, pasti tak akan kulakukan. Tidak. Ini sama sekali bukan salahmu, atau salah malam yang sepi, atau ingatanku yang kehausan. Salahkan saja pada takdir.
Ah, seandainya aku bisa menuliskan sejuta kata cinta hanya dengan sebuah titik, akan kulakukan. Apakah kamu benar-benar tidak ingin kembali?

Jumat, Desember 24, 2004

MERUNGSUNGI

Di dalam kesunyianku berganti kulit dengan namamu dan sederet nama-nama di setiap lapis pembungkusku yang kian lapuk, ada suara setetes pagi yang menyumbatkan malam kembali ke saluran nafasku. Aku jadi merasa seperti sekeping kerupuk yang dibenamkan di kuah dunia maya ini dan tersaji untukmu ketika bunyi-bunyian yang menjadi hargaku telah meleleh.
Lalu ketika kau menghilang bukanlah soal benar. Benar ketika mantra-mantra diucapkan yang datang hanyalah sekabut asap tipis yang menggenangi pikiranku selama berminggu-minggu, atau berbulan-bulan, atau satuan waktu apapun yang kuanggap ada.
Kulihat wajahku pada seorang pengemis di pinggir jalan yang memungut koran bekas dan seperti yang diduga di sana tak ada berita apa-apa tentangmu, atau tentangku. Lalu pengemis itu membayangkan bahwa itu adalah bekas bungkus dari sekepal nasi hangat yang sungguh nikmat. Berterimakasihlah ia kepada malam yang telah bersedia menambahkan lebih banyak rambut putih di kepalanya, agar ia bisa lebih cepat meniti jembatan ke surga.
Pada gambar senyummu yang manis itu setiap hari kukalungkan bunga ungu. Tolong katakan kepadanya bahwa penantian ini semakin lama semakin membuatku hidup dengan kulit kerinduan yang bertambah indah.

Minggu, April 25, 2004

METAMORFOSIS

engkau adalah bebunga liar yang tumbuh di puncak kesunyian
terjerat dalam jejaring kesangsian
rumahrumah mungil yang dibangun didadamu: penuh keriangan
celoteh anakanak dari dunia impian
lalu, kisahkisah tentang laut yang diam
serupa desahan yang tertahan

anganangan dimatamu tumbuh melabirin
serupa jalanjalan setapak dicadas dingin
dedaun luruh rindukan tangkainya
melayang pasrah susuri pusaran angin
memuara ngungun didasar lembah kepedihan
melukis keindahan di lengkung pelangi

mestikah hanya kesiasiaan di bawah langitku
bebunga liar tumbuh di puncak kesunyian
sementara aku mengulangulang kematianku


Senin, Februari 09, 2004

PENA

Karena kaca-kaca jendelaku kini terburamkan
oleh titah langit yang penuh rahasia
mungkin aku harus merenung
sementara anganku haus mencari
apa yang menelanmu di luar sana.

Kini tak ada pena yang bisa menggoreskan
satu sajakpun tanpa luka dalam jiwaku
setelah kutahu aku berpura-pura menjadi gunung
dan laut
dan gerimis berwarna ungu itu
melelehkan
mata pena
mata hati.

nowhere, 090204

Senin, Januari 12, 2004

SEPOTONG KUE KECIL

Ada yang selalu berteriak di tengah malam
suaranya seperti asap yang hendak meraih
bunga-bunga mimpi yang seperti anggur berwarna-warni
dengan rasa haus yang diteteskan
ke mulut adam ketika dia memakan buah itu.

Apakah pengembaraan ini cukup pahit untuk ditangisi?
Tentu saja hanya bila nuranimu berpijar seperti berlian,
sampai kau tak harus menjadi kesatria atau naga,
belenggu dan rantainya ada pada cerita itu:
sepotong kue kecil bernama cinta.

Tidak.
Sebenarnya di tengah kue itu ada sebuah pintu
menuju istana cahaya
tapi keserakahan atas rasanya yang manis
membuat kita meruntuhkannya dengan mulut,
lidah dan gigi.

Ya.
Begitulah aku akan menyuguhkan kembali untukmu
bila senja begitu indah memanggil secangkir teh
kue kecil itu akan mengerling kepadamu
dan aku hanya berharap
kita bisa memilihnya dengan benar:
pintu itu.

Ya.
Begitulah engkau dan aku
dan sepotong kue kecil itu
dengan namanya yang
dengan malu-malu kita sebutkan.


Intan, Januari 2004

Sabtu, Desember 27, 2003

HARI YANG PUTIH

Hari ini bukan hanya tentang gumpalan-gumpalan salju
yang turun bersamaan denting-denting irama
dan seorang bayi yang wajahnya menyinari
seluruh semesta

Hari ini adalah tentang uluran tangan
dari hati yang terhangat
yang membebaskan mimpi dari kegelapan malam
setetes anggur yang mencuci kebodohan
sekerat roti kehidupan remah-remahnya menghidupkan jiwa

Hari ini ketika kaubawakan
sekarung suka cita dari langit
aku persembahkan sekuntum bunga di padang rumput
yang menari perlahan dihembus angin.
25 12 2003

Selasa, Desember 16, 2003

MAWAR MERAH

Apakah benar untuk sampai kepadamu
gerimis harus telah menetes
kupu-kupu lelah menari
dan duri-duri sempurna tumbuh?

Jika demikian akan kupersembahkan
setiap helai rambutku yang terputihkan oleh waktumu
menjadi dawai harpa untuk melantunkan
semua nyanyian peristiwa
tetes demi tetes titah langit
yang diterjemahkan dengan helai demi helai
yang tumbuh dari bumi.

Apakah benar untuk bening telagamu
persinggahan harus musnah
pengembara berjalan tanpa lentera
rimba raya melebur dedaunan

Jika demikian biarlah setiap denyutan
nadi menjadi pemeran kisah yang paling kau kehendaki
terhuyung terbanting bahkan terhambur di angkasa
semua milik hilang makna
mewakili awan tipis
yang diterbangkan oleh takdir
berlari tanpa diri.

Apakar benar untuk merindukanmu saja
ilalang harus terbakar habis
dan kelopak mawar terakhir
runtuh menghapus mimpi.

Dec. 16 2003