Kupu-kupu itu telah jadi kau
sayapnya menjadi aku dalam senyap
menyaksikan dari tiada menjadi tiada
seperti datangmu menjadi pergimu
dentang jantung mengiringinya
tarian waktu yang berjinjit
perlahan wajahmu menjadi tipuan
jika percaya hanyalah cara mengingat
keraguan adalah cara melupakan
terbakar gambarmu menjadi abu
tertabur di danau keheningan
di mana aku adalah di mana.
Minggu, September 06, 2009
TELAGA
Apakah kejahatannya sesuatu yang tidak abadi
hanya menggenang di pintu asap
ketika tubuh meluruh menjadi benda tak berarti
perlawanan hanya neraka
hiruplah dan mengertilah
seribu malaikat mengusung nafasmu
ke dalam batin yang serakah
api harapan membakar
ilalang kesadaran
hiruplah dan mengertilah
seribu sebutan menipu khayalmu
di titik bara jantung ini
aku bertahta untukmu
terguncang kerinduan.
hanya menggenang di pintu asap
ketika tubuh meluruh menjadi benda tak berarti
perlawanan hanya neraka
hiruplah dan mengertilah
seribu malaikat mengusung nafasmu
ke dalam batin yang serakah
api harapan membakar
ilalang kesadaran
hiruplah dan mengertilah
seribu sebutan menipu khayalmu
di titik bara jantung ini
aku bertahta untukmu
terguncang kerinduan.
Sabtu, September 05, 2009
DOA BILA AKU RINDU PADAMU
Tuhan
Ijinkanlah aku menghitung malam
bila rasa rindu ini adalah anugerahMu
ijinkanlah aku membaringkan detak nadiku
begitu dekat di telinga
hingga bisa kudengarkan suara cinta
maka tak akan pernah keraguan sebutir debu
mengusik mimpiku tentang kupu-kupu ungu.
Tuhan
Di manapun Engkau menitipkan kesunyian tetes embun itu
ijinkanlah aku sampai.
Ijinkanlah aku menghitung malam
bila rasa rindu ini adalah anugerahMu
ijinkanlah aku membaringkan detak nadiku
begitu dekat di telinga
hingga bisa kudengarkan suara cinta
maka tak akan pernah keraguan sebutir debu
mengusik mimpiku tentang kupu-kupu ungu.
Tuhan
Di manapun Engkau menitipkan kesunyian tetes embun itu
ijinkanlah aku sampai.
SENJA YANG HAMPIR MUSTAHIL DI PELABUHAN RATU
Langit berwarna merah tembaga
Ketika sepasang tangan bergandeng erat
Bercerita ribuan cerita tanpa bicara
Ombak sesekali bercanda dengan genit
Menggapai kaki yang berpasir basah
Kadangkala hidup begitu sempurna sampai kau tak ingin itu terjadi
Karena jika itu tak abadi kau akan menyesal tanpa henti
Dan engkau tahu waktu bergulir membawamu menembus teka-teki
Yang selalu muncul dan memecah seperti buih
Angin bertiup doa pujangga
Sandarkan kepala damai di dada resah
Nyanyian jantung mengalun harpa sang dewa
Wajah kekasihmu merona sinar bulan
Melukis mimpi yang membasuh duka
Tiba-tiba waktu menjadi tak nyata mengalir berputar ikut menggoda
Apakah kau hadir ataukah hanya berkhayal semata ataukah dia
Yang engkau tahu tangan yang bijak menuntunmu ke taman penuh bunga
Dan laramu musnah tak tersisa ke dalam malam
Waktu membeku luruh berderai
Memandang cemburu perahu di pantai
Remang kemerlip lentera bidadari
Memahat patung sepasang kekasih.
Ketika sepasang tangan bergandeng erat
Bercerita ribuan cerita tanpa bicara
Ombak sesekali bercanda dengan genit
Menggapai kaki yang berpasir basah
Kadangkala hidup begitu sempurna sampai kau tak ingin itu terjadi
Karena jika itu tak abadi kau akan menyesal tanpa henti
Dan engkau tahu waktu bergulir membawamu menembus teka-teki
Yang selalu muncul dan memecah seperti buih
Angin bertiup doa pujangga
Sandarkan kepala damai di dada resah
Nyanyian jantung mengalun harpa sang dewa
Wajah kekasihmu merona sinar bulan
Melukis mimpi yang membasuh duka
Tiba-tiba waktu menjadi tak nyata mengalir berputar ikut menggoda
Apakah kau hadir ataukah hanya berkhayal semata ataukah dia
Yang engkau tahu tangan yang bijak menuntunmu ke taman penuh bunga
Dan laramu musnah tak tersisa ke dalam malam
Waktu membeku luruh berderai
Memandang cemburu perahu di pantai
Remang kemerlip lentera bidadari
Memahat patung sepasang kekasih.
TELAH DIPILIHKAN CINTA
Telah dipilihkan cinta oleh langit untukku
Sejenis cinta yang tak mungkin
Maka namamu pun menjadi mantra bagiku
Kubaca menjelang tidur dan melintasi mimpi
Telah dipilihkan cinta oleh langit untukku
Sejenis cinta yang terindah
Tiada kutahu ke manakah jalan berujung
Biarlah sang waktu menyembuhkan pedih lukaku
Ke mana ujungnya ke mana rantingnya
Tak pernah kupikirkan
Karena cinta bukan pikiran
Nalarku tersumbat olehnya
Di dada menggenang telaga rinduku
Sekarang dan di sini
Api menyala lilin hasratku
Di jiwa terlahir bayangmu
Telah dipilihkan cinta oleh langit untukku
Segenggam hasrat yang gelisah
Jika harapan yang mengental makin menyiksaku
Kuketuk khayalan maya dan membelai sepi
Telah dipilihkan cinta oleh langit untukku
Setetes rindu dan puisi
Basuh lukamu dan sambutlah sang mentari
Kutuntun langkahmu perlahan mengalahkan waktu .
Sejenis cinta yang tak mungkin
Maka namamu pun menjadi mantra bagiku
Kubaca menjelang tidur dan melintasi mimpi
Telah dipilihkan cinta oleh langit untukku
Sejenis cinta yang terindah
Tiada kutahu ke manakah jalan berujung
Biarlah sang waktu menyembuhkan pedih lukaku
Ke mana ujungnya ke mana rantingnya
Tak pernah kupikirkan
Karena cinta bukan pikiran
Nalarku tersumbat olehnya
Di dada menggenang telaga rinduku
Sekarang dan di sini
Api menyala lilin hasratku
Di jiwa terlahir bayangmu
Telah dipilihkan cinta oleh langit untukku
Segenggam hasrat yang gelisah
Jika harapan yang mengental makin menyiksaku
Kuketuk khayalan maya dan membelai sepi
Telah dipilihkan cinta oleh langit untukku
Setetes rindu dan puisi
Basuh lukamu dan sambutlah sang mentari
Kutuntun langkahmu perlahan mengalahkan waktu .
DEBU
masih adakah yang kita tunggu
stasiun ini telah lama membeku
kerna kereta terakhirpun sudah berlalu
tak kau inderakah itu
loncengpun mulai kehilangan talu
musim-musim merayap tanpa waktu
akankah kitapun memudar dalam ingatanmu
seperti bunga ditinggalkan warna
dan siang yang kehilangan cahaya
menari dalam kidung sunyi membisu
dibawah tatap mata yang tak mengenalku
kuingin menjadi debu dalam nadimu
menggetarkan setiap detak jantungmu
stasiun ini telah lama membeku
kerna kereta terakhirpun sudah berlalu
tak kau inderakah itu
loncengpun mulai kehilangan talu
musim-musim merayap tanpa waktu
akankah kitapun memudar dalam ingatanmu
seperti bunga ditinggalkan warna
dan siang yang kehilangan cahaya
menari dalam kidung sunyi membisu
dibawah tatap mata yang tak mengenalku
kuingin menjadi debu dalam nadimu
menggetarkan setiap detak jantungmu
ZIARAH
dilangitlangit kamarku hurufhuruf bertebaran membentuk kata
bersambungan dalam kalimat yang menyesakkan dada
kubaca namun tak kutahu artinya
(seperti nyanyian-nyanyian sakral yang kuindera
berabad ketika aku dalam rahim ibunda)
kubayangkan ribuan wajah dalam dongeng malamku;
- sementara diluar jendelaku sepasang kupukupu sedang bercumbu
pada kegetiran yang menyengat dalam semangat membeku
membuat ziarah ke masa lalu menelaga
(engkau adalah aku, ketika
bungabunga tak lagi membedakan warna)
debudebu didinding kamarku menggigil gemetar
ketika siasia mencari bayanganku yang musnah
ditelan kehampaan yang gulita
bahkan sebelum kita saling menyapa
bersambungan dalam kalimat yang menyesakkan dada
kubaca namun tak kutahu artinya
(seperti nyanyian-nyanyian sakral yang kuindera
berabad ketika aku dalam rahim ibunda)
kubayangkan ribuan wajah dalam dongeng malamku;
- sementara diluar jendelaku sepasang kupukupu sedang bercumbu
pada kegetiran yang menyengat dalam semangat membeku
membuat ziarah ke masa lalu menelaga
(engkau adalah aku, ketika
bungabunga tak lagi membedakan warna)
debudebu didinding kamarku menggigil gemetar
ketika siasia mencari bayanganku yang musnah
ditelan kehampaan yang gulita
bahkan sebelum kita saling menyapa
Sabtu, Mei 07, 2005
SELALU DI TENGAH MALAM
Selalu di tengah malam sepasukan pengingat masuk ke dalam bilik jantungku. Aku meraba otakku untuk memastikan bahwa namamu selengkapnya masih tersimpan di sana, karena hanya itulah senjataku.
"Apakah engkau masih benar-benar ada di luar sana sayangku?" tanya sebagian imanku yang rapuh. Tapi aku mengerti bahwa engkau bukanlah kitab suci atau novel-novel baru yang ditulis indah oleh para perempuan muda, - mereka tumbuh bagaikan jamur di musim hujan akhir-akhir ini -, sehingga mengharapkanmu terbit adalah hampir omong kosong. Walaupun demikian ruangan yang hampa itu masih selalu kubersihkan dan kuberi wangi-wangian dari bunga-bunga ungu.
Ah, seandainya aku bisa memaksamu untuk kembali melukis bunga-bunga ungu di tengah malam ini, pasti tak akan kulakukan. Tidak. Ini sama sekali bukan salahmu, atau salah malam yang sepi, atau ingatanku yang kehausan. Salahkan saja pada takdir.
Ah, seandainya aku bisa menuliskan sejuta kata cinta hanya dengan sebuah titik, akan kulakukan. Apakah kamu benar-benar tidak ingin kembali?
Selalu di tengah malam sepasukan pengingat masuk ke dalam bilik jantungku. Aku meraba otakku untuk memastikan bahwa namamu selengkapnya masih tersimpan di sana, karena hanya itulah senjataku.
"Apakah engkau masih benar-benar ada di luar sana sayangku?" tanya sebagian imanku yang rapuh. Tapi aku mengerti bahwa engkau bukanlah kitab suci atau novel-novel baru yang ditulis indah oleh para perempuan muda, - mereka tumbuh bagaikan jamur di musim hujan akhir-akhir ini -, sehingga mengharapkanmu terbit adalah hampir omong kosong. Walaupun demikian ruangan yang hampa itu masih selalu kubersihkan dan kuberi wangi-wangian dari bunga-bunga ungu.
Ah, seandainya aku bisa memaksamu untuk kembali melukis bunga-bunga ungu di tengah malam ini, pasti tak akan kulakukan. Tidak. Ini sama sekali bukan salahmu, atau salah malam yang sepi, atau ingatanku yang kehausan. Salahkan saja pada takdir.
Ah, seandainya aku bisa menuliskan sejuta kata cinta hanya dengan sebuah titik, akan kulakukan. Apakah kamu benar-benar tidak ingin kembali?
Jumat, Desember 24, 2004
MERUNGSUNGI
Di dalam kesunyianku berganti kulit dengan namamu dan sederet nama-nama di setiap lapis pembungkusku yang kian lapuk, ada suara setetes pagi yang menyumbatkan malam kembali ke saluran nafasku. Aku jadi merasa seperti sekeping kerupuk yang dibenamkan di kuah dunia maya ini dan tersaji untukmu ketika bunyi-bunyian yang menjadi hargaku telah meleleh.
Lalu ketika kau menghilang bukanlah soal benar. Benar ketika mantra-mantra diucapkan yang datang hanyalah sekabut asap tipis yang menggenangi pikiranku selama berminggu-minggu, atau berbulan-bulan, atau satuan waktu apapun yang kuanggap ada.
Kulihat wajahku pada seorang pengemis di pinggir jalan yang memungut koran bekas dan seperti yang diduga di sana tak ada berita apa-apa tentangmu, atau tentangku. Lalu pengemis itu membayangkan bahwa itu adalah bekas bungkus dari sekepal nasi hangat yang sungguh nikmat. Berterimakasihlah ia kepada malam yang telah bersedia menambahkan lebih banyak rambut putih di kepalanya, agar ia bisa lebih cepat meniti jembatan ke surga.
Pada gambar senyummu yang manis itu setiap hari kukalungkan bunga ungu. Tolong katakan kepadanya bahwa penantian ini semakin lama semakin membuatku hidup dengan kulit kerinduan yang bertambah indah.
Di dalam kesunyianku berganti kulit dengan namamu dan sederet nama-nama di setiap lapis pembungkusku yang kian lapuk, ada suara setetes pagi yang menyumbatkan malam kembali ke saluran nafasku. Aku jadi merasa seperti sekeping kerupuk yang dibenamkan di kuah dunia maya ini dan tersaji untukmu ketika bunyi-bunyian yang menjadi hargaku telah meleleh.
Lalu ketika kau menghilang bukanlah soal benar. Benar ketika mantra-mantra diucapkan yang datang hanyalah sekabut asap tipis yang menggenangi pikiranku selama berminggu-minggu, atau berbulan-bulan, atau satuan waktu apapun yang kuanggap ada.
Kulihat wajahku pada seorang pengemis di pinggir jalan yang memungut koran bekas dan seperti yang diduga di sana tak ada berita apa-apa tentangmu, atau tentangku. Lalu pengemis itu membayangkan bahwa itu adalah bekas bungkus dari sekepal nasi hangat yang sungguh nikmat. Berterimakasihlah ia kepada malam yang telah bersedia menambahkan lebih banyak rambut putih di kepalanya, agar ia bisa lebih cepat meniti jembatan ke surga.
Pada gambar senyummu yang manis itu setiap hari kukalungkan bunga ungu. Tolong katakan kepadanya bahwa penantian ini semakin lama semakin membuatku hidup dengan kulit kerinduan yang bertambah indah.
Minggu, April 25, 2004
METAMORFOSIS
engkau adalah bebunga liar yang tumbuh di puncak kesunyian
terjerat dalam jejaring kesangsian
rumahrumah mungil yang dibangun didadamu: penuh keriangan
celoteh anakanak dari dunia impian
lalu, kisahkisah tentang laut yang diam
serupa desahan yang tertahan
anganangan dimatamu tumbuh melabirin
serupa jalanjalan setapak dicadas dingin
dedaun luruh rindukan tangkainya
melayang pasrah susuri pusaran angin
memuara ngungun didasar lembah kepedihan
melukis keindahan di lengkung pelangi
mestikah hanya kesiasiaan di bawah langitku
bebunga liar tumbuh di puncak kesunyian
sementara aku mengulangulang kematianku
engkau adalah bebunga liar yang tumbuh di puncak kesunyian
terjerat dalam jejaring kesangsian
rumahrumah mungil yang dibangun didadamu: penuh keriangan
celoteh anakanak dari dunia impian
lalu, kisahkisah tentang laut yang diam
serupa desahan yang tertahan
anganangan dimatamu tumbuh melabirin
serupa jalanjalan setapak dicadas dingin
dedaun luruh rindukan tangkainya
melayang pasrah susuri pusaran angin
memuara ngungun didasar lembah kepedihan
melukis keindahan di lengkung pelangi
mestikah hanya kesiasiaan di bawah langitku
bebunga liar tumbuh di puncak kesunyian
sementara aku mengulangulang kematianku
Senin, Februari 09, 2004
PENA
Karena kaca-kaca jendelaku kini terburamkan
oleh titah langit yang penuh rahasia
mungkin aku harus merenung
sementara anganku haus mencari
apa yang menelanmu di luar sana.
Kini tak ada pena yang bisa menggoreskan
satu sajakpun tanpa luka dalam jiwaku
setelah kutahu aku berpura-pura menjadi gunung
dan laut
dan gerimis berwarna ungu itu
melelehkan
mata pena
mata hati.
nowhere, 090204
Karena kaca-kaca jendelaku kini terburamkan
oleh titah langit yang penuh rahasia
mungkin aku harus merenung
sementara anganku haus mencari
apa yang menelanmu di luar sana.
Kini tak ada pena yang bisa menggoreskan
satu sajakpun tanpa luka dalam jiwaku
setelah kutahu aku berpura-pura menjadi gunung
dan laut
dan gerimis berwarna ungu itu
melelehkan
mata pena
mata hati.
nowhere, 090204
Senin, Januari 12, 2004
SEPOTONG KUE KECIL
Ada yang selalu berteriak di tengah malam
suaranya seperti asap yang hendak meraih
bunga-bunga mimpi yang seperti anggur berwarna-warni
dengan rasa haus yang diteteskan
ke mulut adam ketika dia memakan buah itu.
Apakah pengembaraan ini cukup pahit untuk ditangisi?
Tentu saja hanya bila nuranimu berpijar seperti berlian,
sampai kau tak harus menjadi kesatria atau naga,
belenggu dan rantainya ada pada cerita itu:
sepotong kue kecil bernama cinta.
Tidak.
Sebenarnya di tengah kue itu ada sebuah pintu
menuju istana cahaya
tapi keserakahan atas rasanya yang manis
membuat kita meruntuhkannya dengan mulut,
lidah dan gigi.
Ya.
Begitulah aku akan menyuguhkan kembali untukmu
bila senja begitu indah memanggil secangkir teh
kue kecil itu akan mengerling kepadamu
dan aku hanya berharap
kita bisa memilihnya dengan benar:
pintu itu.
Ya.
Begitulah engkau dan aku
dan sepotong kue kecil itu
dengan namanya yang
dengan malu-malu kita sebutkan.
Intan, Januari 2004
Ada yang selalu berteriak di tengah malam
suaranya seperti asap yang hendak meraih
bunga-bunga mimpi yang seperti anggur berwarna-warni
dengan rasa haus yang diteteskan
ke mulut adam ketika dia memakan buah itu.
Apakah pengembaraan ini cukup pahit untuk ditangisi?
Tentu saja hanya bila nuranimu berpijar seperti berlian,
sampai kau tak harus menjadi kesatria atau naga,
belenggu dan rantainya ada pada cerita itu:
sepotong kue kecil bernama cinta.
Tidak.
Sebenarnya di tengah kue itu ada sebuah pintu
menuju istana cahaya
tapi keserakahan atas rasanya yang manis
membuat kita meruntuhkannya dengan mulut,
lidah dan gigi.
Ya.
Begitulah aku akan menyuguhkan kembali untukmu
bila senja begitu indah memanggil secangkir teh
kue kecil itu akan mengerling kepadamu
dan aku hanya berharap
kita bisa memilihnya dengan benar:
pintu itu.
Ya.
Begitulah engkau dan aku
dan sepotong kue kecil itu
dengan namanya yang
dengan malu-malu kita sebutkan.
Intan, Januari 2004
Langganan:
Postingan (Atom)