MERUNGSUNGI
Di dalam kesunyianku berganti kulit dengan namamu dan sederet nama-nama di setiap lapis pembungkusku yang kian lapuk, ada suara setetes pagi yang menyumbatkan malam kembali ke saluran nafasku. Aku jadi merasa seperti sekeping kerupuk yang dibenamkan di kuah dunia maya ini dan tersaji untukmu ketika bunyi-bunyian yang menjadi hargaku telah meleleh.
Lalu ketika kau menghilang bukanlah soal benar. Benar ketika mantra-mantra diucapkan yang datang hanyalah sekabut asap tipis yang menggenangi pikiranku selama berminggu-minggu, atau berbulan-bulan, atau satuan waktu apapun yang kuanggap ada.
Kulihat wajahku pada seorang pengemis di pinggir jalan yang memungut koran bekas dan seperti yang diduga di sana tak ada berita apa-apa tentangmu, atau tentangku. Lalu pengemis itu membayangkan bahwa itu adalah bekas bungkus dari sekepal nasi hangat yang sungguh nikmat. Berterimakasihlah ia kepada malam yang telah bersedia menambahkan lebih banyak rambut putih di kepalanya, agar ia bisa lebih cepat meniti jembatan ke surga.
Pada gambar senyummu yang manis itu setiap hari kukalungkan bunga ungu. Tolong katakan kepadanya bahwa penantian ini semakin lama semakin membuatku hidup dengan kulit kerinduan yang bertambah indah.
Jumat, Desember 24, 2004
Langganan:
Postingan (Atom)