MERUNGSUNGI
Di dalam kesunyianku berganti kulit dengan namamu dan sederet nama-nama di setiap lapis pembungkusku yang kian lapuk, ada suara setetes pagi yang menyumbatkan malam kembali ke saluran nafasku. Aku jadi merasa seperti sekeping kerupuk yang dibenamkan di kuah dunia maya ini dan tersaji untukmu ketika bunyi-bunyian yang menjadi hargaku telah meleleh.
Lalu ketika kau menghilang bukanlah soal benar. Benar ketika mantra-mantra diucapkan yang datang hanyalah sekabut asap tipis yang menggenangi pikiranku selama berminggu-minggu, atau berbulan-bulan, atau satuan waktu apapun yang kuanggap ada.
Kulihat wajahku pada seorang pengemis di pinggir jalan yang memungut koran bekas dan seperti yang diduga di sana tak ada berita apa-apa tentangmu, atau tentangku. Lalu pengemis itu membayangkan bahwa itu adalah bekas bungkus dari sekepal nasi hangat yang sungguh nikmat. Berterimakasihlah ia kepada malam yang telah bersedia menambahkan lebih banyak rambut putih di kepalanya, agar ia bisa lebih cepat meniti jembatan ke surga.
Pada gambar senyummu yang manis itu setiap hari kukalungkan bunga ungu. Tolong katakan kepadanya bahwa penantian ini semakin lama semakin membuatku hidup dengan kulit kerinduan yang bertambah indah.
Jumat, Desember 24, 2004
Minggu, April 25, 2004
METAMORFOSIS
engkau adalah bebunga liar yang tumbuh di puncak kesunyian
terjerat dalam jejaring kesangsian
rumahrumah mungil yang dibangun didadamu: penuh keriangan
celoteh anakanak dari dunia impian
lalu, kisahkisah tentang laut yang diam
serupa desahan yang tertahan
anganangan dimatamu tumbuh melabirin
serupa jalanjalan setapak dicadas dingin
dedaun luruh rindukan tangkainya
melayang pasrah susuri pusaran angin
memuara ngungun didasar lembah kepedihan
melukis keindahan di lengkung pelangi
mestikah hanya kesiasiaan di bawah langitku
bebunga liar tumbuh di puncak kesunyian
sementara aku mengulangulang kematianku
engkau adalah bebunga liar yang tumbuh di puncak kesunyian
terjerat dalam jejaring kesangsian
rumahrumah mungil yang dibangun didadamu: penuh keriangan
celoteh anakanak dari dunia impian
lalu, kisahkisah tentang laut yang diam
serupa desahan yang tertahan
anganangan dimatamu tumbuh melabirin
serupa jalanjalan setapak dicadas dingin
dedaun luruh rindukan tangkainya
melayang pasrah susuri pusaran angin
memuara ngungun didasar lembah kepedihan
melukis keindahan di lengkung pelangi
mestikah hanya kesiasiaan di bawah langitku
bebunga liar tumbuh di puncak kesunyian
sementara aku mengulangulang kematianku
Senin, Februari 09, 2004
PENA
Karena kaca-kaca jendelaku kini terburamkan
oleh titah langit yang penuh rahasia
mungkin aku harus merenung
sementara anganku haus mencari
apa yang menelanmu di luar sana.
Kini tak ada pena yang bisa menggoreskan
satu sajakpun tanpa luka dalam jiwaku
setelah kutahu aku berpura-pura menjadi gunung
dan laut
dan gerimis berwarna ungu itu
melelehkan
mata pena
mata hati.
nowhere, 090204
Karena kaca-kaca jendelaku kini terburamkan
oleh titah langit yang penuh rahasia
mungkin aku harus merenung
sementara anganku haus mencari
apa yang menelanmu di luar sana.
Kini tak ada pena yang bisa menggoreskan
satu sajakpun tanpa luka dalam jiwaku
setelah kutahu aku berpura-pura menjadi gunung
dan laut
dan gerimis berwarna ungu itu
melelehkan
mata pena
mata hati.
nowhere, 090204
Senin, Januari 12, 2004
SEPOTONG KUE KECIL
Ada yang selalu berteriak di tengah malam
suaranya seperti asap yang hendak meraih
bunga-bunga mimpi yang seperti anggur berwarna-warni
dengan rasa haus yang diteteskan
ke mulut adam ketika dia memakan buah itu.
Apakah pengembaraan ini cukup pahit untuk ditangisi?
Tentu saja hanya bila nuranimu berpijar seperti berlian,
sampai kau tak harus menjadi kesatria atau naga,
belenggu dan rantainya ada pada cerita itu:
sepotong kue kecil bernama cinta.
Tidak.
Sebenarnya di tengah kue itu ada sebuah pintu
menuju istana cahaya
tapi keserakahan atas rasanya yang manis
membuat kita meruntuhkannya dengan mulut,
lidah dan gigi.
Ya.
Begitulah aku akan menyuguhkan kembali untukmu
bila senja begitu indah memanggil secangkir teh
kue kecil itu akan mengerling kepadamu
dan aku hanya berharap
kita bisa memilihnya dengan benar:
pintu itu.
Ya.
Begitulah engkau dan aku
dan sepotong kue kecil itu
dengan namanya yang
dengan malu-malu kita sebutkan.
Intan, Januari 2004
Ada yang selalu berteriak di tengah malam
suaranya seperti asap yang hendak meraih
bunga-bunga mimpi yang seperti anggur berwarna-warni
dengan rasa haus yang diteteskan
ke mulut adam ketika dia memakan buah itu.
Apakah pengembaraan ini cukup pahit untuk ditangisi?
Tentu saja hanya bila nuranimu berpijar seperti berlian,
sampai kau tak harus menjadi kesatria atau naga,
belenggu dan rantainya ada pada cerita itu:
sepotong kue kecil bernama cinta.
Tidak.
Sebenarnya di tengah kue itu ada sebuah pintu
menuju istana cahaya
tapi keserakahan atas rasanya yang manis
membuat kita meruntuhkannya dengan mulut,
lidah dan gigi.
Ya.
Begitulah aku akan menyuguhkan kembali untukmu
bila senja begitu indah memanggil secangkir teh
kue kecil itu akan mengerling kepadamu
dan aku hanya berharap
kita bisa memilihnya dengan benar:
pintu itu.
Ya.
Begitulah engkau dan aku
dan sepotong kue kecil itu
dengan namanya yang
dengan malu-malu kita sebutkan.
Intan, Januari 2004
Langganan:
Postingan (Atom)