Senin, Januari 12, 2004

SEPOTONG KUE KECIL

Ada yang selalu berteriak di tengah malam
suaranya seperti asap yang hendak meraih
bunga-bunga mimpi yang seperti anggur berwarna-warni
dengan rasa haus yang diteteskan
ke mulut adam ketika dia memakan buah itu.

Apakah pengembaraan ini cukup pahit untuk ditangisi?
Tentu saja hanya bila nuranimu berpijar seperti berlian,
sampai kau tak harus menjadi kesatria atau naga,
belenggu dan rantainya ada pada cerita itu:
sepotong kue kecil bernama cinta.

Tidak.
Sebenarnya di tengah kue itu ada sebuah pintu
menuju istana cahaya
tapi keserakahan atas rasanya yang manis
membuat kita meruntuhkannya dengan mulut,
lidah dan gigi.

Ya.
Begitulah aku akan menyuguhkan kembali untukmu
bila senja begitu indah memanggil secangkir teh
kue kecil itu akan mengerling kepadamu
dan aku hanya berharap
kita bisa memilihnya dengan benar:
pintu itu.

Ya.
Begitulah engkau dan aku
dan sepotong kue kecil itu
dengan namanya yang
dengan malu-malu kita sebutkan.


Intan, Januari 2004