SELALU DI TENGAH MALAM
Selalu di tengah malam sepasukan pengingat masuk ke dalam bilik jantungku. Aku meraba otakku untuk memastikan bahwa namamu selengkapnya masih tersimpan di sana, karena hanya itulah senjataku.
"Apakah engkau masih benar-benar ada di luar sana sayangku?" tanya sebagian imanku yang rapuh. Tapi aku mengerti bahwa engkau bukanlah kitab suci atau novel-novel baru yang ditulis indah oleh para perempuan muda, - mereka tumbuh bagaikan jamur di musim hujan akhir-akhir ini -, sehingga mengharapkanmu terbit adalah hampir omong kosong. Walaupun demikian ruangan yang hampa itu masih selalu kubersihkan dan kuberi wangi-wangian dari bunga-bunga ungu.
Ah, seandainya aku bisa memaksamu untuk kembali melukis bunga-bunga ungu di tengah malam ini, pasti tak akan kulakukan. Tidak. Ini sama sekali bukan salahmu, atau salah malam yang sepi, atau ingatanku yang kehausan. Salahkan saja pada takdir.
Ah, seandainya aku bisa menuliskan sejuta kata cinta hanya dengan sebuah titik, akan kulakukan. Apakah kamu benar-benar tidak ingin kembali?
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar