Sabtu, Desember 27, 2003

HARI YANG PUTIH

Hari ini bukan hanya tentang gumpalan-gumpalan salju
yang turun bersamaan denting-denting irama
dan seorang bayi yang wajahnya menyinari
seluruh semesta

Hari ini adalah tentang uluran tangan
dari hati yang terhangat
yang membebaskan mimpi dari kegelapan malam
setetes anggur yang mencuci kebodohan
sekerat roti kehidupan remah-remahnya menghidupkan jiwa

Hari ini ketika kaubawakan
sekarung suka cita dari langit
aku persembahkan sekuntum bunga di padang rumput
yang menari perlahan dihembus angin.
25 12 2003

Selasa, Desember 16, 2003

MAWAR MERAH

Apakah benar untuk sampai kepadamu
gerimis harus telah menetes
kupu-kupu lelah menari
dan duri-duri sempurna tumbuh?

Jika demikian akan kupersembahkan
setiap helai rambutku yang terputihkan oleh waktumu
menjadi dawai harpa untuk melantunkan
semua nyanyian peristiwa
tetes demi tetes titah langit
yang diterjemahkan dengan helai demi helai
yang tumbuh dari bumi.

Apakah benar untuk bening telagamu
persinggahan harus musnah
pengembara berjalan tanpa lentera
rimba raya melebur dedaunan

Jika demikian biarlah setiap denyutan
nadi menjadi pemeran kisah yang paling kau kehendaki
terhuyung terbanting bahkan terhambur di angkasa
semua milik hilang makna
mewakili awan tipis
yang diterbangkan oleh takdir
berlari tanpa diri.

Apakar benar untuk merindukanmu saja
ilalang harus terbakar habis
dan kelopak mawar terakhir
runtuh menghapus mimpi.

Dec. 16 2003

Rabu, Desember 03, 2003

ANAK PANAH

jadi inikah semata wayang anak panahmu
yang kepadaku kau persembahkan
ia telah meledakledak dalam dadaku
melukis harihari dalam warnawarna bunga

tik-tok jam dinding menatapi sepi
sebab waktu takkan pernah berdusta
bungabungapun hanyut dalam warna pelangi
pada percakapan tentang perjalanan fana
(amargi gesang namung sakdermo nglampahi titah)

semata wayang anak panahmu itu
tetap hidup dalam hening ingatanku
tumbuh subur taman bunga didadaku
pun ketika busurmu luluh mengabu
sebab kayu mestilah pasrah kepada api
anak panahmu tetap hidup: menjadi api

bogor, nop 03



KOTBAH

ada kotbahkotbah di rumahrumah ibadah
tapi ia kehilangan katakata
ada katakata yang mengendap didalam jiwa
tapi ia kehilangan bahasa
ada bahasa bunga berkembang didalam dada
tapi mereka kehilangan warna

dan warnawarna kidung persembahan di istana
telah kehilangan makna

tapi hidup terus berlalu pada kesah
sungai menata arus dalam riaknya
muara menghitung jarak dengan senyap

Lalu kidung apakah yang sedang kau lantunkan itu ?

bogor, nop 03