Selasa, September 02, 2003

TENTANG KECEMASAN
( kepada martini )

tak sebaris katapun keluar dari mulutmu
ketika kutanya rencana hari esok-pagimu, adikku
kau kelihatan sangat cemas
dan menatap pagi sebagai
raksasa peminum darah

adikku,
serahkanlah resahmu pada angin
yang malam ini berbisik di jendela kamarmu
dan simpanlah gelisahmu dalam kabut
yang malam ini memekat di kebun jagung samping rumah

adikku,
tidak ingatkah kau pada cerita tentang burung pipit
( mahluk Tuhan yang juga dikasihiNya : seperti kita )
yang tak pernah cemas menggeluti hidup
mereka tetap memandang lurus kedepan,
walau mereka tak pernah menanam
walau mereka tak pernah menuai
kerna Tuhan telah menabur benih kasih baginya

esok pagi,
bukalah jendelamu dan kepada
berkas cahaya pertama yang masuk kamarmu
ucapkanlah selamat pagi dan
kirimkanlah harapanmu
kemudian tataplah pagi sebagai pagi,
kelinci putih bermata bening yang penuh arti
sebagai warna-warna hidup yang penuh makna

sekarang,
marilah kita tidur
tidak dengan mimpi,
tapi dalam kenyataan yang tergenggam
( dan jangan hiraukan jika nanti
aku mendengkur )

bogor, agustus 2001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar