TENTANG KECEMASAN
( kepada martini )
tak sebaris katapun keluar dari mulutmu
ketika kutanya rencana hari esok-pagimu, adikku
kau kelihatan sangat cemas
dan menatap pagi sebagai
raksasa peminum darah
adikku,
serahkanlah resahmu pada angin
yang malam ini berbisik di jendela kamarmu
dan simpanlah gelisahmu dalam kabut
yang malam ini memekat di kebun jagung samping rumah
adikku,
tidak ingatkah kau pada cerita tentang burung pipit
( mahluk Tuhan yang juga dikasihiNya : seperti kita )
yang tak pernah cemas menggeluti hidup
mereka tetap memandang lurus kedepan,
walau mereka tak pernah menanam
walau mereka tak pernah menuai
kerna Tuhan telah menabur benih kasih baginya
esok pagi,
bukalah jendelamu dan kepada
berkas cahaya pertama yang masuk kamarmu
ucapkanlah selamat pagi dan
kirimkanlah harapanmu
kemudian tataplah pagi sebagai pagi,
kelinci putih bermata bening yang penuh arti
sebagai warna-warna hidup yang penuh makna
sekarang,
marilah kita tidur
tidak dengan mimpi,
tapi dalam kenyataan yang tergenggam
( dan jangan hiraukan jika nanti
aku mendengkur )
bogor, agustus 2001
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar