Selasa, September 02, 2003

SENANDUNG LADANG JAGUNG
(ketika sia-sia aku mengusir wajahmu
dari bilikku yang pengap)

Dalam desah angin lembah yang kering,
masih kudengar nyanyian resah daun jagung
dan tanya-tanya lahir bagai asap ;
mengembang, mengembara lalu musnah tanpa jawab
selurus arus kali yang tak sudah
bagai tik-tok detak jam dinding,
yang pada malam-malam gaib :
menikamku dalam lorong-lorong kehampaan

Asaku adalah angin,
yang melintas-lintas tanpa dimensi,
secemas kelopak mawar yang dalam merah fajar
menanti mentari pagi
dan burung-burung terbang bebas
yang merindu dahan hinggapan
Ketika tiba-tiba mimpiku memadat :
kuindera ketukan langkah-langkahmu diluar kamarku,
sementara dibalik daun pintu,
aku menisik luka-lukaku

Adakah jemari lentik mentari mampu membelai
pokok-pokok jagung di ladang,
pagi ini ketika asa makin membiru dalam dahaga

bogor, maret 2000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar