KWATRIN JINGGA
merah keemasan sinar matamu menusuki kalbuku
bagai berjuta jarum alit yang menyembur
dari mulut mungil dara cantik
aku menggapai tapi tak sempat menangkap
selaksa makna seperti ketika aku berdusta
waktu mendengar rintik hujan diluar tembok
lewat sebuah lubang angin
tak sadar aku walau jarak kita makin pendek dan
aku merasa jauh justru ketika
kita tanpa jarak
Tuhan, apakah aku sedang berdiri diatas
ketaksadaranku ketika orang-orang
meneriakkan kesadaran semu ?
bogor, oktober 2001
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar